DO IT Behavior Based – Safety

Posted on
  • Brainstorming dengan metode KJ analisis ; beberapa orang yang mewakili departemen dan tingkat jabatan dimintai masukannya terhadap perilaku perilaku tidak aman yang dilakukan pekerja dengan cara menuliskan diatas potongan kertas ( Post it ) .
  • Group diskusi dengan beberapa orang yang mewakili  setiap departemen atau bagian.
  • Analisis terhadap berbagai penyebab kecelakaan yang pernah terjadi
  • Berdasarkan temuan audit K3

Bisa saja ditemukan atau diperoleh banyak sekali perilaku tidak aman dari proses tersebut diatas, namun pihak manajemen harus menentukan perilaku beresiko mana yang akan menjadi prioritas utama untuk masuk program BBS. Ruang lingkup BBS juga harus ditentukan agar program BBS bis a menjadi lebih fokus dan efektif.

Sebagai contoh :

Program 1 : Perilaku yang menjadi target adalah cara mengemudi forklift yang tidak sesuai SOP. Ruang lingkupnya adalah semua pengemudi forklift dan jalur forklift di area pabrik.

Program 2 : Perilaku penggunaan APD di area produksi. Ruang lingkup semua operator atau pekerja yang ada di produksi.

Kegiatan yang dilakukan , sehingga pengamat tinggal  hanya memberi tanda apakah kegiatan atau aktifitas dilakukan secara aman atau beresiko.

Observe

Setelah ditentukan perilaku beresiko yang akan dijadikan target dalam program BBS, maka tahap selanjutnya dilakukan observasi atau pengamatan terhadap pekerja-pekerja di area atau bagian yang sudah ditentukan. Pengamatan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengamatan terbuka dan pengamatan tertutup.  Pengamatan terbuka maksudnya adalah pengamatan dilakukan secara langsung dan diketahui oleh yang diamati. Tentu saja metode ini  seringkali akan mendapatkan hasil yang bias karena pekerja yang merasa diamati akab bekerja secara lebih hati-hati. Meskipun demikian pekerja yang sudah terbiasa berperilaku tidak aman akan tetap memunculkan perilaku tidak amannya.

Pengamatan tertutup maksudnya adalah pengamatan dilakukan secara diam diam tanpa diketahui oleh pekerja yang diamati. Hal ini bisa dilakukan oleh pihak ketiga atau pekerja didalam grup yang sama yang diminta secara khusus melakukan pengamatan sambil bekerja. Sangat tidak disarankan . Pengamatan dan penilaian harus objektif tidak boleh diinterpretasikan oleh pengamat, mencatat apa adanya sesuai yang dilihat.

Pengamatan harus pada pekerjaan yang normal berlangsung sehari-hari. Dalam melakukan pengamatan juga harus disiapkan check list aktifitas untuk setiap kegiatan yang dilakukan, sehingga pengamat tinggal hanya memberi tanda apakah kegiatan atau aktifitas dilakukan secara aman atau beresiko.

Intervene

Setelah dilakukan pengamatan dan semua data data observasi diolah , maka selanjutnya dilakukan intervensi  untuk memperbaiki perilaku beresiko yang ditemukan dari hasil observasi. Dalam membuat program intervensi sebaiknya melibatkan pekerja di area area yang akan diintervensi, masukan dari pekerja yang sehari harinya melakukan aktifitas tersebut akan sangat penting dalam merancang program intervensi yang efektif . Dalam membuat program intervensi juga harus ditentukan berapa lama intervensi akan dilakukan agar terjadi perubahan yang diharapkan.

Merubah perilaku bukanlah hal yang mudah, biasanya membutuhkan waktu dan kesabaran. Salah satu teknik intervensi dalam BBS adalah model intervensi  ABC yaitu intervensi melalui Activator, intervensi melalui Behavior, dan intervensi melalui Consequency

Contoh :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.